PADANG, JUNETHA RUTH RINDING (2025) Analisis Keanekaragaman Serangga Nokturnal Di Hutan Pinus Bulu Tanah, Desa Mattampawalie, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan = Analysis of Nocturnal Insect Diversity in Bulu Tanah Pine Forest, Mattampawalie Village, Lappariaja District, Bone Regency, South Sulawesi. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
M011211167-SvbRQz2j4wBWpH8d-20251007151253.jpg
Download (411kB) | Preview
M011211167-1-2.pdf
Download (854kB)
M011211167-dp.pdf
Download (469kB)
M011211167-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 3 October 2027.
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Junetha Ruth Rinding Padang. Analisis Keanekaragaman Serangga Nokturnal Di Hutan Pinus Bulu Tanah, Desa Mattampawalie, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (dibimbing oleh Andi Sadapotto). Latar Belakang. Keanekaragaman serangga menjadi salah satu indikator dalam menilai keseimbangan atau kondisi kesehatan ekosistem hutan. Serangga nokturnal memiliki peran penting secara ekologis, seperti penyerbuk, pengendali hama, membantu dekomposisi bahan organik serta menjadi bagian dari rantai makanan. Hutan pinus Bulu Tanah merupakan salah satu ekosistem yang memiliki potensi keanekaragaman serangga nokturnal yang belum diteliti sehingga penelitian ini dilakukan untuk data keanekaragaman hayati serta sebagai sumber informasi terkait dengan keanekaragaman serangga nokturnal di kawasan tersebut. Tujuan. Menganalisis keanekaragaman serangga nokturnal di Hutan Pinus Bulu Tanah, Desa Mattampawalie, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Metode. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode purposive sampling dengan menggunakan light trap. Analisis data yang digunakan yaitu Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wienner (H’), indeks kemerataan Evennes, indeks kekayan jenis Margalef (Dmg), dan indeks dominansi jenis. Hasil. Kawasan wisata memiliki indeks keanekaragaman serangga lebih tinggi yaitu 2,91 dibandingkan pada kawasan transisi 2,74 dan kawasan bukan wisata 2,34. Pada indeks kekayaan jenis kawasan wisata memiliki memiliki nilai lebih tinggi yaitu 6,94 dibandingkan pada kawasan transisi 6,62 dan kawasan bukan wisata 4,68. Indeks kemerataan jenis lebih tinggi pada kawasan wisata yaitu 0,82 dibandingkan pada kawasan transisi 0,77 dan kawasan bukan wisata 0,73. Kemudian pada kawasan bukan wisata memiliki indeks dominansi jenis lebih tinggi yaitu 0,16 dibandingkan pada kawasan transisi 0,103 dan kawasan wisata 0,07. Kesimpulan. Kawasan transisi memiliki kelimpahan individu serangga nokturnal yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan bukan wisata dan kawasan wisata. Jumlah spesies yang didapatkan dari ketiga area yaitu 62 spesies, 8 ordo dan 49 famili. Pada kawasan wisata memiliki indeks keanekaragaman tertinggi (2,91), indeks kekayaan tertinggi (6,94) dan indeks kemerataan tertinggi (0,82). Sedangkan nilai indeks dominansi tertinggi (0,16) berada pada kawasan bukan wisata. Kata Kunci : Keanekaragaman; serangga nokturnal; hutan pinus; kawasan wisata; kawasan transisi; kawasan bukan wisata.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kata Kunci : Keanekaragaman; serangga nokturnal; hutan pinus; kawasan wisata; kawasan transisi; kawasan bukan wisata. |
| Subjects: | S Agriculture > SD Forestry |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kehutanan > Kehutanan |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 06 May 2026 06:38 |
| Last Modified: | 06 May 2026 06:38 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/55748 |
