BAHARI, LALU AHMALIAN (2026) DISAIN PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI BASELINE DAERAH RESAPAN DI KOTA MEDAN = GREEN OPEN SPACE MANAGEMENT DESIGN AS A BASELINE FOR ABSORPTION AREA IN MEDAN CITY. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
P033231006-MElatHqNBC5RUOgs-20260121104436.jpeg
Download (37kB) | Preview
P033231006-1-2.pdf
Download (1MB)
P033231006-dp.pdf
Download (230kB)
P033231006-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 15 January 2028.
Download (9MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang, Pertumbuhan penduduk dan pembangunan fisik di Kota Medan mendorong alih fungsi lahan. Berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) sebagai daerah resapan air, sehingga ketersediaan air tanah menurun dan potensi banjir. UU No. 26 Tahun 2007 menargetkan minimal 30% wilayah kota adalah RTH, realisasi di Medan masih di bawah standar, yakni 6,37%. Belum adanya penelitian mengenai pemodelan pengelolaan RTH sebagai baseline daerah resapan di Medan menunjukkan adanya kebutuhan akademis dan praktis untuk merumuskan strategi yang komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Menganalisis dampak laju pertumbuhan penduduk terhadap konversi lahan di Kota Medan; (2) Menganalisis dan menemukan variable dan stakeholder kunci dalam pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai resapan di Kota Medan serta (3) Merumuskan model scenario terbaik dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Sebagai Baseline Daerah Resapan di Kota Medan. Metode penelitian, menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan analisis spasial, prospective analysis (MICMAC, MACTOR), serta sistem dinamik. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan untuk menemukan variabel penggerak (driving variables), relasi antar stakeholder , dan skenario kebijakan. Model kemudian diuji dengan pendekatan sistem dinamik untuk memproyeksikan efektivitas RTH dalam menjaga fungsi resapan air. Hasil Penelitian Sejak Tahun 2013 – 2023 (10 tahun) Kota medan kehilangan ruang vegetasi 5250 ha (42,29 %). Identifikasi variabel kunci utama sebagai penggerak berupa pertumbuhan penduduk, regulasi/kebijakan, dan dukungan pembiayaan (APBD). Stakeholder kunci meliputi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai legislative, pemerintah daerah dalam hal ini adalah Dinas Sumberdaya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi Kota Medan, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang Kota Medan dan Badan Perencana Pembangunan Daerah Kota Medan , yang memiliki kepentingan dan pengaruh berbeda. Pengelolaan RTH Sebagai Baseline Daerah Resapan di Kota Medan harus berbasis pada konsistensi memaksimalkan dan mempertahankan keberadaan Angka Daya Dukung (Number Carrying Capacity) , Angka Laju Infiltrasi Air (Number of Flow Infiltration) dan Water, meminimalkan Angka Kepadatan Ruang Comunitas (Number Space Community) dan Angka Pengambilan Air Tanah (Number Flow Exstraction). Kesimpulan penelitian bahwa skenario terbaik adalah pengelolaan RTH berbasis kolaborasi multistakeholder dengan dukungan kebijakan tegas sangat bergantung pada pertumbuhan penduduk, keterpaduan kebijakan tata ruang, APBD berbasis ekologi. Konstruksi teori pada disertasi ini mampu menggambarkan hubungan integral antara dinamika populasi, struktur ruang, dan keberlanjutan ekologis. Teori Sistem Sosial Ekologis RTH sebagai Baseline Resapan Kota Medan muncul dari kesadaran bahwa fungsi resapan air bukanlah entitas ekologis yang berdiri sendiri. Hasil ini menjadi masukan strategis dalam merumuskan kebijakan pengelolaan ruang kota adaptif, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Ruang Terbuka Hijau ; Stakeholder Kunci; Variabel Kunci ; Sistem Dinamik; Keberlanjutan lingkungan |
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences |
| Divisions (Program Studi): | Program Pascasarjana > Ilmu Lingkungan |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 30 Apr 2026 07:20 |
| Last Modified: | 30 Apr 2026 07:20 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/55563 |
