KAJIAN BUDAYA MARITIM SUKU BIAK DALAM PERSPEKTIF ETNOLINGUISTIK = KAJIAN BUDAYA MARITIM SUKU BIAK DALAM PERSPEKTIF ETNOLINGUISTIK


HENGKI, HENGKI (2025) KAJIAN BUDAYA MARITIM SUKU BIAK DALAM PERSPEKTIF ETNOLINGUISTIK = KAJIAN BUDAYA MARITIM SUKU BIAK DALAM PERSPEKTIF ETNOLINGUISTIK. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of COVER]
Preview
Image (COVER)
F013212003-sdLJmF71ExHbw3kK-20260306164401.jpg

Download (213kB) | Preview
[thumbnail of BAB 1-2] Text (BAB 1-2)
F013212003-1-2.pdf

Download (546kB)
[thumbnail of DAPUS] Text (DAPUS)
F013212003-dp.pdf

Download (402kB)
[thumbnail of FULL TEXT] Text (FULL TEXT)
F013212003-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 8 December 2027.

Download (1MB)

Abstract (Abstrak)

Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai kosmologi kemaritiman dalam ritual tolak bala dan teks Wor yang meliputi pengetahuan kemaritiman, ritual Penenggelaman Perahu Baru, dan nilai-nilai budaya, ekologi, serta kosmologinya. Penelitian ini merupakan penelitian multidisipliner yang memadukan rumpun ilmu sosial dan ilmu kealaman, menggunakan pendekatan kualitatif etnografi linguistik. Teori utama adalah etnolinguistik dengan teori pendukung lain yang relevan. Data penelitian bersumber dari folklor lisan murni (makna leksikal dan sosial alam maritim) dan folklor sebagian lisan. Folklor lisan murni mencakup pengetahuan lokal suku Biak berupa navigasi alami, peribahasa, serta prosa lisan (fabel, legenda, dan mitos). Folklor sebagian lisan mencakup teks ritual Penenggelaman Perahu Baru dan teks lagu Wor tentang pemanfaatan hasil laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan maritim mencakup istilah biotik-penamaan ikan laut dalam bahasa Biak dan istilah abiotik seperti astronomi tradisional yang digunakan sebagai navigasi alami. Rasi bintang Scorpion (Romangguan) dan Orion (Sawakoi) digunakan untuk menentukan musim angin, sedangkan munculnya bintang kejora menjadi penanda waktu mendarat. Istilah Wampasi mengacu pada laut teduh yang aman untuk melaut, sedangkan Wambraw menandai musim bergelombang sehingga nelayan beralih ke pekerjaan lain. Ritual Penenggelaman Perahu Baru secara leksikal berarti menenggelamkan perahu baru di laut, sedangkan secara sosial bermakna tolak bala kepada roh penjaga tanjung agar melindungi nelayan. Pelaksanaan ritual juga mencerminkan status sosial pemilik perahu. Teks Wor memperkuat pesan kosmologis, ekologis, dan spiritual masyarakat Biak. Nilai budaya yang ditemukan terdiri atas nilai sosial (tanggung jawab, keteladanan, solidaritas, kehati-hatian); nilai ekologi (kelestarian, respek alam, adaptasi); dan nilai kosmologi (hubungan manusia-alam-roh, simbolisme kosmis, kalender adat). Fungsinya meliputi penguatan identitas, pedoman perilaku sosial, pendidikan karakter, pelestarian alam, solidaritas, serta perlindungan spiritual. Secara keseluruhan, nilai kosmologi kemaritiman dalam ritual tolak bala dan teks Wor tidak hanya bertujuan menghindari musibah, tetapi juga menjaga harmoni sosial, menghormati alam, mewariskan pengetahuan leluhur, dan menegaskan keterhubungan spiritual manusia Biak dengan laut.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: budaya maritim, etnolinguistik, suku Biak
Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Budaya > Linguistik
Depositing User: Unnamed user with username pkl2
Date Deposited: 27 Apr 2026 05:52
Last Modified: 27 Apr 2026 05:52
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/55411

Actions (login required)

View Item
View Item