SARTONO, MOHAMAD (2026) Mat Sao Tam: Studi Tentang Sistem Perkawinan Mengabdi Suku Timor di Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang = Mat Sao Tam: Study of Timor people serving marriage in Sulamu District Kupang Regency. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
E042232006-4RsxrY5MUmn6EkoC-20260312175652.jpg
Download (63kB) | Preview
E042232006-1-2.pdf
Download (247kB)
E042232006-dp.pdf
Download (84kB)
E042232006-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 5 March 2028.
Download (1MB)
Abstract (Abstrak)
Muhamad Sartono, (E042191001). Mat Sao Tam: Studi Tentang Sistem Perkawinan Mengabdi Suku Timor di Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Di bimbing oleh Dr. Safriadi, S.IP. M.Si sebagai pembimbing utama. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses tradisi belis dilakukan pada masyarakat suku Timor, bentuk-bentuk pengabdian laki-laki terhadap keluarga perempuan, serta konsekuensi yang diterima jika melanggar perjanjian “Mat Sao Tam”. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penentuan informan dilakukan dengan metode purposive samplingl. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara mendalam (indept inteview), observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunikan dalam prosesi perkawinan adat Suku Timor yakni adanya prosesi tujuh dulang meliputi dulang terang kampung, dulang ine amaf, dulang to’o, dulang pengantin, dulang selimut, dulang atapupus, dan dulang kaos nono. Laki-laki (suami) yang memutuskan untuk Mat Sao Tam karena sebab tertentu diharuskan menetap di rumah keluarga perempuan (istri), diwajibkan untuk bekerja di ladang dan mengurus ternak milik orang tua perempuan (istri) disamping itu hak sebagai kepala keluarga dicabut sampai batas tertentu, sehingga tidak punya kuasa terhadap anak dan istrinya, dan tidak dilibatkan dalam berbagai ritual kehidupan keluarga perempuan (istri). Sangsi yang diberikan jika melanggar perjanjian Mat Sao Tam disesuaikan dengan bentuk pelanggaran yang dilakukan, terdapat sangsi dengan skala ringan dan sangsi dengan skala berat. Sangsi dengan skala ringan berupa denda. yang, harus dibayarkan sesuai musyawarah adat, sedangkan sangsi skala berat merupakan sangsi sosial dimana pelaku pelanggaran dapat diusir ke luar kampung halamannya dan tidak diperkenankan kembali lagi.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Mat Sao Tam, belis, perkawinan, suku Timor |
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology J Political Science > JF Political institutions (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 23 Apr 2026 05:46 |
| Last Modified: | 23 Apr 2026 05:46 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/55364 |
