BASRI, CHIARA NURUL ANNISA I.S. (2026) Dyadic Analysis: Pengaruh Green Purchase Intention terhadap Willingness to Pay More Konsumsi Pakaian Ramah Lingkungan = Dyadic Analysis: The Effect of Green Purchase Intention on Willingness to Pay More for Sustainable Clothing Consumption. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
C021221036-ou8GIlWvPKHy67Xj-20260118224404.jpg
Download (326kB) | Preview
C021221036-1-2.pdf
Download (282kB)
C021221036-dp.pdf
Download (183kB)
C021221036-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 14 January 2028.
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Industri fast fashion telah menjadi salah satu penyebab utama permasalahan lingkungan global, sehingga mulai terdapat peralihan dari paradigma fast fashion ke pakaian ramah lingkungan (green apparel). Meskipun kesadaran akan konsumsi berkelanjutan meningkat, adopsi green apparel di kalangan konsumen masih rendah. Willingness to pay more (WTPM) menjadi prediktor kunci, yang didorong oleh green purchase intention (GPI). Namun, faktor sosial seperti pengaruh pasangan dalam konteks diadik terutama di budaya kolektivis seperti Indonesia belum banyak dieksplorasi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh GPI terhadap WTPM untuk pakaian ramah lingkungan dalam konteks diadik pasangan romantis di Indonesia, dengan menguji pengaruh langsung individu (actor effect), pengaruh pasangan (partner effect), serta perbedaan WTPM berdasarkan tingkat GPI pasangan. Metode. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan campuran melalui survei dan eksperimen. Survei cross-sectional terhadap 71 pasangan (142 individu) dianalisis dengan Actor-Partner Interdependence Model (APIM). Eksperimen within-subjects terhadap 71 partisipan menguji pengaruh manipulasi informasi GPI pasangan terhadap WTPM, dianalisis dengan one-way repeated measures ANOVA. Hasil. GPI individu berpengaruh signifikan positif terhadap WTPM mereka sendiri (actor effect). Namun, GPI pasangan tidak berpengaruh langsung terhadap WTPM individu (partner effect). Di sisi lain, eksperimen menunjukkan WTPM partisipan meningkat signifikan ketika menerima informasi bahwa pasangan memiliki GPI tinggi, dan menurun ketika GPI pasangan rendah. Kesimpulan. Motivasi internal individu menjadi pendorong utama WTPM. Pengaruh pasangan bersifat tidak langsung dan kondisional, hanya signifikan ketika preferensi pasangan dikomunikasikan secara eksplisit sebagai sinyal sosial yang kuat. Temuan ini memperkaya pemahaman dinamika diadik dalam keputusan konsumsi berkelanjutan di konteks budaya kolektivisLatar Belakang. Industri fast fashion telah menjadi salah satu penyebab utama permasalahan lingkungan global, sehingga mulai terdapat peralihan dari paradigma fast fashion ke pakaian ramah lingkungan (green apparel). Meskipun kesadaran akan konsumsi berkelanjutan meningkat, adopsi green apparel di kalangan konsumen masih rendah. Willingness to pay more (WTPM) menjadi prediktor kunci, yang didorong oleh green purchase intention (GPI). Namun, faktor sosial seperti pengaruh pasangan dalam konteks diadik terutama di budaya kolektivis seperti Indonesia belum banyak dieksplorasi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh GPI terhadap WTPM untuk pakaian ramah lingkungan dalam konteks diadik pasangan romantis di Indonesia, dengan menguji pengaruh langsung individu (actor effect), pengaruh pasangan (partner effect), serta perbedaan WTPM berdasarkan tingkat GPI pasangan. Metode. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan campuran melalui survei dan eksperimen. Survei cross-sectional terhadap 71 pasangan (142 individu) dianalisis dengan Actor-Partner Interdependence Model (APIM). Eksperimen within-subjects terhadap 71 partisipan menguji pengaruh manipulasi informasi GPI pasangan terhadap WTPM, dianalisis dengan one-way repeated measures ANOVA. Hasil. GPI individu berpengaruh signifikan positif terhadap WTPM mereka sendiri (actor effect). Namun, GPI pasangan tidak berpengaruh langsung terhadap WTPM individu (partner effect). Di sisi lain, eksperimen menunjukkan WTPM partisipan meningkat signifikan ketika menerima informasi bahwa pasangan memiliki GPI tinggi, dan menurun ketika GPI pasangan rendah. Kesimpulan. Motivasi internal individu menjadi pendorong utama WTPM. Pengaruh pasangan bersifat tidak langsung dan kondisional, hanya signifikan ketika preferensi pasangan dikomunikasikan secara eksplisit sebagai sinyal sosial yang kuat. Temuan ini memperkaya pemahaman dinamika diadik dalam keputusan konsumsi berkelanjutan di konteks budaya kolektivisLatar Belakang. Industri fast fashion telah menjadi salah satu penyebab utama permasalahan lingkungan global, sehingga mulai terdapat peralihan dari paradigma fast fashion ke pakaian ramah lingkungan (green apparel). Meskipun kesadaran akan konsumsi berkelanjutan meningkat, adopsi green apparel di kalangan konsumen masih rendah. Willingness to pay more (WTPM) menjadi prediktor kunci, yang didorong oleh green purchase intention (GPI). Namun, faktor sosial seperti pengaruh pasangan dalam konteks diadik terutama di budaya kolektivis seperti Indonesia belum banyak dieksplorasi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh GPI terhadap WTPM untuk pakaian ramah lingkungan dalam konteks diadik pasangan romantis di Indonesia, dengan menguji pengaruh langsung individu (actor effect), pengaruh pasangan (partner effect), serta perbedaan WTPM berdasarkan tingkat GPI pasangan. Metode. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan campuran melalui survei dan eksperimen. Survei cross-sectional terhadap 71 pasangan (142 individu) dianalisis dengan Actor-Partner Interdependence Model (APIM). Eksperimen within-subjects terhadap 71 partisipan menguji pengaruh manipulasi informasi GPI pasangan terhadap WTPM, dianalisis dengan one-way repeated measures ANOVA. Hasil. GPI individu berpengaruh signifikan positif terhadap WTPM mereka sendiri (actor effect). Namun, GPI pasangan tidak berpengaruh langsung terhadap WTPM individu (partner effect). Di sisi lain, eksperimen menunjukkan WTPM partisipan meningkat signifikan ketika menerima informasi bahwa pasangan memiliki GPI tinggi, dan menurun ketika GPI pasangan rendah. Kesimpulan. Motivasi internal individu menjadi pendorong utama WTPM. Pengaruh pasangan bersifat tidak langsung dan kondisional, hanya signifikan ketika preferensi pasangan dikomunikasikan secara eksplisit sebagai sinyal sosial yang kuat. Temuan ini memperkaya pemahaman dinamika diadik dalam keputusan konsumsi berkelanjutan di konteks budaya kolektivis
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | green consumer behavior, interdependensi, hubungan romantis, pakaian ramah lingkungan, kolektivisme |
| Subjects: | R Medicine > RC Internal medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > Psikologi |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 14 Apr 2026 01:04 |
| Last Modified: | 14 Apr 2026 01:04 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/55049 |
