Perbandingan Kadar Serum Kreatinin dan Laju Filtrasi Glomerulus Sebelum dan Sesudah Menjalani Intervensi Koroner Perkutan pada Penderita Sindrom Koroner Akut dengan Faktor Risiko Hipertensi = The Comparison of Serum Creatinine Levels and Glomerular Filtration Rate Before and After Percutaneous Coronary Intervention in Patients with Acute Coronary Syndrome with Hypertension as a Risk Factor


USMAN, WAHYU RAMADHAN (2025) Perbandingan Kadar Serum Kreatinin dan Laju Filtrasi Glomerulus Sebelum dan Sesudah Menjalani Intervensi Koroner Perkutan pada Penderita Sindrom Koroner Akut dengan Faktor Risiko Hipertensi = The Comparison of Serum Creatinine Levels and Glomerular Filtration Rate Before and After Percutaneous Coronary Intervention in Patients with Acute Coronary Syndrome with Hypertension as a Risk Factor. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
C165211009-exu4IYMzTLQGE5tD-20251007110909.jpg

Download (344kB) | Preview
[thumbnail of Bab 1-2] Text (Bab 1-2)
C165211009-1-2.pdf

Download (703kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
C165211009-dp.pdf

Download (147kB)
[thumbnail of Fulltext] Text (Fulltext)
C165211009-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 13 August 2027.

Download (1MB)

Abstract (Abstrak)

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan salah satu manifestasi penyakit jantung koroner yang sering memerlukan tata laksana invasif berupa Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Penggunaan media kontras pada prosedur PCI berisiko menimbulkan Contrast-induced Acute Kidney Injury (CI-AKI), yang ditandai dengan peningkatan kadar serum kreatinin dan penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR). Hipertensi diketahui sebagai salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk kerentanan ginjal terhadap efek nefrotoksik media kontras. Tujuan. Menilai perbandingan kadar serum kreatinin dan eGFR sebelum dan sesudah PCI pada pasien SKA dengan faktor risiko hipertensi. Metode. Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif dengan melibatkan 141 pasien SKA yang menjalani PCI di Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (Juni 2024–Maret 2025). Subjek dibagi menjadi kelompok dengan hipertensi (n=59) dan tanpa hipertensi (n=82). Data demografi, kadar serum kreatinin, dan eGFR diukur sebelum serta 48–72 jam setelah PCI. Analisis dilakukan menggunakan uji Wilcoxon untuk perbandingan berpasangan dan uji Mann- Whitney untuk perbandingan antar-kelompok. Nilai p<0,05 dianggap bermakna. Hasil. Secara keseluruhan, kadar serum kreatinin meningkat signifikan dari 0,97 ± 0,31 mg/dL menjadi 1,09 ± 0,35 mg/dL (p<0,001), sedangkan eGFR menurun signifikan dari 86,36 ± 36,97 menjadi 76,23 ± 30,68 mL/min/1,73m² (p<0,001) pasca-PCI. Pada kelompok hipertensi, kreatinin meningkat dari 0,93 ± 0,33 menjadi 1,05 ± 0,26 mg/dL (p=0,001) dan eGFR menurun dari 90,99 ± 37,88 menjadi 77,16 ± 29,13 mL/min/1,73m² (p=0,003). Hasil serupa ditemukan pada kelompok non- hipertensi. Tidak terdapat perbedaan bermakna perubahan kreatinin dan eGFR antara kedua kelompok (p>0,05). Sebagian besar pasien menunjukkan fungsi ginjal stabil pasca-PCI (71,2% pada hipertensi vs 70,7% pada non-hipertensi). Kesimpulan. PCI menyebabkan peningkatan signifikan kadar serum kreatinin dan penurunan eGFR, baik pada pasien dengan maupun tanpa hipertensi. Hipertensi tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap besarnya perubahan fungsi ginjal pasca-PCI.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Sindrom koroner akut, PCI, hipertensi, kreatinin, eGFR, CI-AKI
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > PPDS - Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Depositing User: Nasyir Nompo
Date Deposited: 08 Apr 2026 00:02
Last Modified: 08 Apr 2026 00:02
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/54977

Actions (login required)

View Item
View Item