HUBUNGAN RASA NYERI DAN KECEMASAN TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL, OKSITOSIN, OKSITOSIN RESEPTOR DENGAN KEBERHASILAN INDUKSI PERSALINAN DENGAN OXYTOCIN DRIPS = Correlation of Pain and Anxiety to the levels of Cortisol, Oxytocin, Oxytocin Receptors with Oxytocin drips Labor Induction Success Rate


GINTING, ERWIN (2025) HUBUNGAN RASA NYERI DAN KECEMASAN TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL, OKSITOSIN, OKSITOSIN RESEPTOR DENGAN KEBERHASILAN INDUKSI PERSALINAN DENGAN OXYTOCIN DRIPS = Correlation of Pain and Anxiety to the levels of Cortisol, Oxytocin, Oxytocin Receptors with Oxytocin drips Labor Induction Success Rate. Disertasi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
C013211012-Vnh3e5xRB6ASIUrZ-20251008150517.jpg

Download (325kB) | Preview
[thumbnail of Bab 1-2] Text (Bab 1-2)
C013211012-1-2.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
C013211012-dp.pdf

Download (192kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
C013211012-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 9 October 2027.

Download (5MB)

Abstract (Abstrak)

HUBUNGAN RASA NYERI DAN KECEMASAN TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL, OKSITOSIN, OKSITOSIN RESEPTOR DENGAN KEBERHASILAN INDUKSI PERSALINAN DENGAN OXYTOCIN DRIPS Latar Belakang: Induksi persalinan merupakan hal yang sering dilakukan dengan tujuan untuk mempersingkat masa persalinan dimana ditujukan untuk mengurangi keseluruhan waktu persalinan tanpa menimbulkan efek yang merugikan terhadap ibu dan janin. Prevalensi induksi persalinan yang dilakukan sekitar 20%-25% dari seluruh kehamilan. Salah satu metode induksi persalinan yang banyak digunakan adalah dengan oxytocin drips. Oksitosin terbukti efektif meningkatkan kemungkinan persalinan pervaginam serta menurunkan angka kematian ibu serta menurunkan angka kesakitan akibat seksio sesarea. Pada saat persalinan, kerja oksitosin adalah membuat kontraksi uterus semakin kuat, lebih sering dan lebih lama. Persalinan merupakan salah satu peristiwa paling menyakitkan dan menegangkan yang dialami ibu selama hidup mereka terutama jika dilakukan induksi persalinan. Nyeri persalinan merupakan hal fisiologis yang dirasakan ibu menjelang persalinan. Intensitas nyeri yang dirasakan oleh ibu akan berbeda, bahkan ibu yang sama akan merasakan nyeri persalinan yang berbeda setiap persalinan. Nyeri akan memberikan pengalaman persalinan bagi seorang wanita. Pengalaman persalinan adalah hal yang kompleks dan subyektif. Nyeri pada persalinan ini akan menyebabkan peningkatan rasa cemas pada persalinan. rasa cemas persalinan banyak dikaitkan dengan peningkatan imunosupresi, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, penyembuhan luka yang tertunda, berkurangnya kontraksi rahim dan persalinan lama pada ibu yang melahirkan. Kegagalan dalam induksi persalinan akan meningkatkan meningkatkan risiko terjadinya pengalaman yang buruk terhadap persalinan. Pengalaman buruk ini akan mempengaruhi keinginan untuk hamil lagi atau lebih memilih untuk melakukan operasi sesar untuk persalinan berikutnya. Pengalaman yang buruk ini juga akan memengaruhi kondisi psikologis ibu. Metode: Penelitian ini menggunakan Desain Penelitian Kohort Prospektif (Pre dan Post Test) dengan menggunakan Probability Sampling dengan teknik Random Sampling. Hasil: Karakteristik sosiodemografik dan obstetri subjek ditemuka rerata usia seluruh subjek adalah 27,04 ± 4,94 tahun, tanpa perbedaan bermakna antara kelompok berhasil dan gagal (p = 0,759). Primigravida memiliki kemungkinan keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan multigravida, dengan odds ratio (OR) sebesar 0,07 (IK 95%: 0,01–0,31). Pekerjaan (p = 0,334), indikasi induksi (p = 0,773), IMT (p = 0,496) dan Skor Bishop (p = 0,496) tidak menunjukkan perbedaan bermakna terhadap keberhasilan induksi. Δ skor nyeri menunjukkan perbedaan yang signifikan: kelompok berhasil mengalami peningkatan nyeri yang lebih tinggi dibanding kelompok gagal (p < 0,001). Δ skor kecemasan menunjukkan penurunan pada kelompok berhasil dan peningkatan pada kelompok gagal (p < 0,001). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada Δ oksitosin (p = 0,291). Sebaliknya, Δ reseptor oksitosin menunjukkan perbedaan signifikan: meningkat pada kelompok berhasil, tetapi menurun pada kelompok gagal (p < 0,001). Δ kortisol menunjukkan penurunan pada kelompok berhasil dan peningkatan pada kelompok gagal, dengan perbedaan signifikan (p < 0,001). Terdapat korelasi positif yang signifikan antara perubahan kecemasan dengan kadar kortisol (ρ = 0,775; p < 0,001), menunjukkan bahwa peningkatan kecemasan disertai dengan peningkatan kadar kortisol. Sebaliknya, ditemukan korelasi negatif yang signifikan antara perubahan kecemasan dan kadar reseptor oksitosin (ρ = –0,558; p < 0,001), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi peningkatan kecemasan, semakin rendah kadar reseptor oksitosin. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara perubahan kecemasan dengan kadar oksitosin (p = 0,181). Tingkat kecemasan yang lebih tinggi justru berhubungan dengan peningkatan peluang keberhasilan induksi, dengan OR sebesar 3,66 (IK 95%: 1,62–8,29). Kadar reseptor oksitosin (p = 0,084), kadar oksitosin plasma (p = 0,630), kadar kortisol (p = 0,623) dan skala nyeri (p = 0,560) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik, meskipun reseptor oksitosin mendekati batas signifikansi. Model prediksi skor yang dikembangkan memiliki performa yang sangat baik secara keseluruhan, dengan AUC di atas 0,90 pada hampir semua subkelompok. Sistem perhitungan skor untuk prediksi keberhasilan induksi dengan oxytocin drips dengan rumus : SKOR = Paritas (Primigravida = 0, Multigravida =1) * (– 26) + reseptor oksitosin (ng/mL) * (- 25) + kecemasan (skor KLP II) * (13) Skor ≥164 dapat direkomendasikan untuk menjalani induksi dengan oksitosin dengan probabilitas keberhasilan sebesar 60.8%. Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan peran sentral dari faktor psikologis, khususnya kecemasan dengan reseptor oksitosin dan paritas sebagai prediktor keberhasilan induksi persalinan. Besaran efek yang ditemukan untuk kecemasan dan kadar reseptor oksitosin merupakan temuan dalam penelitian behavioral medicine, dengan implikasi praktis yang mendalam untuk praktik klinis. Intervensi pengurangan kecemasan dapat mencapai tingkat keberhasilan yang sebanding dengan intervensi farmakologis mayor, tetapi dengan biaya yang jauh lebih rendah dan profil efek samping yang minimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan rasa nyeri, kadar kortisol dan oksitosin selama proses induksi tidak berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan induksi persalinan. Skor ≥ 164 dapat digunakan sebagai prediktor keberhasilan induksi persalinan dengan oxytocin drips. Kata Kunci: Nyeri, Kecemasan, Kortisol, Oksitosin, Oksitosin Reseptor, Keberhasilan Induksi, Oxytocin drips.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci: Nyeri, Kecemasan, Kortisol, Oksitosin, Oksitosin Reseptor, Keberhasilan Induksi, Oxytocin drips.
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter
Depositing User: Nasyir Nompo
Date Deposited: 02 Apr 2026 03:53
Last Modified: 02 Apr 2026 03:53
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/54918

Actions (login required)

View Item
View Item