Pola Penggunaan Kata Baho Pada Penamaan Toponim Pemukiman di Kabupaten Morowali = The Pattern of Using the Word Baho in Settlement Toponym Naming in Morowali Regency


NIKE, NIKE (2025) Pola Penggunaan Kata Baho Pada Penamaan Toponim Pemukiman di Kabupaten Morowali = The Pattern of Using the Word Baho in Settlement Toponym Naming in Morowali Regency. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
F012232001-Cover.jpg

Download (294kB) | Preview
[thumbnail of Bab1-2] Text (Bab1-2)
F012232001-1-2(FILEminimizer).pdf

Download (279kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
F012232001-dp(FILEminimizer).pdf

Download (214kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
F012232001-fulll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 15 September 2027.

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

NIKE. Pola Penggunaan Kata Baho pada Penamaan Toponim Pemukiman di Kabupaten Morowali (dibimbing oleh Muhlis Hadrawi dan Andi Faisal). Penelitian ini bertujuan menganalisis pola penamaan toponim yang menggunakan kata baho di wilayah Bungku, Kabupaten Morowali, serta mengungkap sejarah dan makna yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan onomastika. Data utama berupa delapan toponim yang mengandung kata baho diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan tokoh masyarakat dan pemuka adat, serta penelusuran dokumen administratif dan arsip pemerintah. Data sekunder dikumpulkan dari literatur teoritis, artikel ilmiah, dan sumber sejarah terkait budaya masyarakat Bungku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh toponim memiliki pola repetisi leksikal morfem baho sebagai unsur pembuka, yang berfungsi sebagai nomina inti dan penanda geografis berupa air. Secara morfologis, ditemukan dua struktur utama: komposisi nominal atributif (N + A) yang menggambarkan sifat air (warna, rasa, bentuk aliran, dan kondisi) dan komposisi nominal majemuk (N + N) yang menunjukkan identitas sosial atau kepemilikan. Proses pembentukan toponim didominasi oleh komposisi morfem bebas, dengan variasi reduplikasi semantis pada Reko-reko dan fenomena morfofonemik berupa penyisipan fonem /n/ pada Bahontobungku dan Bahomante. Dari sisi historis dan kultural, penamaan toponim terbagi ke dalam tiga kategori utama menurut Sudaryat (2009): aspek perwujudan (Bahomohoni, Bahomante, Bahoruru), aspek kemasyarakatan (Bahomotefe), dan aspek kebudayaan (Bahomoahi, Bahomoleo, Bahontobungku, dan Bahoea Rekoreko). Mayoritas nama berasal dari legenda atau cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, sementara sebagian lainnya merefleksikan kondisi geografis setempat, dengan satu kasus berasal dari kesepakatan administratif. Penelitian ini menegaskan bahwa toponimi di wilayah Bungku bukan sekadar sistem penamaan tempat, tetapi juga cerminan keterkaitan erat antara bahasa, budaya, lingkungan, dan sejarah. Pentingnya air dalam kehidupan masyarakat Bungku tercermin dari produktivitas penggunaan morfem baho, yang menjadi simbol identitas lokal sekaligus warisan budaya takbenda. Temuan ini diharapkan berkontribusi pada pelestarian pengetahuan tradisional serta memperkaya kajian linguistik di Indonesia.

Keyword : toponim, baho, onomastika, Morowali, masyarakat Bungku.

Item Type: Thesis (Thesis)
Uncontrolled Keywords: Toponym, baho, onomastics, Morowali, Bungku community.
Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Budaya > Ilmu Linguistik
Depositing User: Rasman
Date Deposited: 10 Feb 2026 05:56
Last Modified: 10 Feb 2026 05:56
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/53399

Actions (login required)

View Item
View Item