MANSUR, MUSDALIFA (2025) DETEKSI DAN PENANGANAN ABNORMALITAS REPRODUKSI PADA SAPI BALI BETINA DI SULAWESI SELATAN = DETECTION AND TREATMENT OF REPRODUCTIVE ABNORMALITIES IN BALI COWS IN SOUTH SULAWESI. Disertasi thesis, Universitas Hasanuddin.
P013211021-zT4xgwHSydjYun1q-20250815170408.jpg
Download (438kB) | Preview
P013211021-1-2.pdf
Download (411kB)
P013211021-dp.pdf
Download (156kB)
P013211021-fullll.pdf
Restricted to Repository staff only until 6 August 2027.
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Musdalifa Mansur. Deteksi dan Penanganan Abnormalitas Reproduksi Pada Sapi Bali Betina di Sulawesi Selatan (dibimbing oleh Abd. Latief Toleng, Muhammad Yusuf, dan Jasmal Ahmari Syamsu) Latar belakang. Gangguan reproduksi merupakan salah satu hambatan dalam upaya peningkatan populasi sapi Bali karena dapat menyebabkan kegagalan fertilisasi, memperpanjang jarak antar kelahiran, dan menurunkan angka kebuntingan. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan tingkat kejadian dan idetifikasi jenis gangguan reproduksi, (2) menganalisis faktor penyebab dan dampak gangguan reproduksi, serta (3) mengkaji dan mengevaluasi efektivitas intervensi hormon dalam meningkatkan efisiensi reproduksi pada sapi Bali betina di peternakan rakyat Sulawesi Selatan. Metode. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama mengidentifikasi gangguan reproduksi melalui pemeriksaan klinis (vaginoskopi, palpasi rektal, dan ultrasonografi) pada 283 ekor sapi Bali betina yang dipelihara secara ekstensif oleh peternak. Tahap kedua berupa penerapan intervensi hormon terhadap sapi yang mengalami gangguan reproduksi, dengan menggunakan tiga jenis hormon, yaitu GnRH, prostaglandin, dan estradiol benzoat, yang disesuaikan dengan jenis gangguan yang dialami masing-masing ternak. Parameter yang diamati meliputi proporsi kejadian gangguan reproduksi, skor kondisi tubuh (BCS), umur, paritas, interval antara melahirkan dan pelaksanaan inseminasi buatan (IB), tingkat estrus, days open, dan tingkat kebuntingan. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70,32% sapi berada dalam kondisi reproduksi yang normal (tidak ditemukan gangguan reproduksi), sedangkan 29,68% mengalami gangguan, dengan anestrus sebagai kasus terbanyak (88%). Gangguan lebih banyak ditemukan pada sapi dengan BCS rendah (≤3), usia tua (>8 tahun), dan paritas tinggi (>6 kali). Intervensi hormon terbukti efektif meningkatkan indikator reproduksi seperti tingkat estrus (100%), menurunkan days open (rata-rata 92 hari), dan meningkatkan tingkat kebuntingan (100%) pada kelompok perlakuan, setara dengan sapi normal, serta jauh lebih baik dibandingkan kelompok tanpa perlakuan. Intervensi hormon juga menunjukkan efektivitas pada berbagai kelompok umur, paritas, dan skor BCS. Kesimpulan. Gangguan reproduksi khususnya anestrus masih menjadi masalah signifikan pada sapi Bali betina di Sulawesi Selatan, terutama pada ternak dengan kondisi tubuh rendah, usia tua, dan paritas tinggi. Penerapan intervensi hormon (GnRH, prostaglandin, dan estradiol benzoat) secara tepat berdasarkan diagnosis terbukti mampu memulihkan fungsi reproduksi, meningkatkan respons estrus, memperpendek days open, dan mencapai tingkat kebuntingan optimal yang setara dengan sapi tanpa gangguan reproduksi. Strategi ini berpotensi mempercepat peningkatan populasi sapi Bali di wilayah tersebut.
| Item Type: | Thesis (Disertasi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Anestrus, Efisiensi Reproduksi, Gangguan Reproduksi, Inseminasi Buatan, Intervensi Hormon, Sapi Bali. |
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) |
| Divisions (Program Studi): | Program Pascasarjana > Ilmu Pertanian |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 05 Feb 2026 01:53 |
| Last Modified: | 05 Feb 2026 01:53 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/53171 |
