MOWOKA, ERIN NURUL (2025) ANALISIS RASIO PLATELET LIMFOSIT TERHADAP KEMATIAN 90 HARI PASCA PENYAKIT PARU OBTRUKTIF KRONIK EKSASERBASI AKUT = ANALYSIS OF THE PLATELET TO LYMPHOCYTE RATIO (PLR) AND 90-DAYS MORTALITY FOLLOWING ACUTE EXACERBATION OF CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
C185211008-Cover.png
Download (285kB) | Preview
C185211008-1-2.pdf
Download (256kB)
C185211008-dp(FILEminimizer).pdf
Download (35kB)
C185211008-fulll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 5 August 2027.
Download (918kB)
Abstract (Abstrak)
LATAR BELAKANG: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit respirasi kronik dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi secara global. Eksaserbasi akut PPOK meningkatkan risiko perburukan klinis dan kematian, khususnya dalam 90 hari pascakejadian. Rasio platelet-limfosit (PLR) merupakan biomarker hematologi yang mencerminkan inflamasi sistemik dan potensi prognosis klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik klinis dan hematologis pasien PPOK eksaserbasi akut serta menilai hubungan PLR terhadap mortalitas 90 hari. METODE: Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan desain kohort retrospektif yang melibatkan 66 pasien PPOK eksaserbasi akut di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, selama Juni 2022 hingga Mei 2023. Data demografis, klinis, komorbid, dan hematologi dikumpulkan, termasuk nilai PLR. Pasien dipantau selama 90 hari untuk menilai mortalitas. Analisis statistik dilakukan untuk mengevaluasi hubungan antara PLR dengan derajat obstruksi dan kematian 90 hari. HASIL: Mayoritas pasien berusia ≥60 tahun (77,3%) dan berjenis kelamin laki-laki (86,4%), dengan riwayat merokok (75,8%). Derajat obstruksi terbanyak pada GOLD II (45,5%) dan III (50,0%). Sebanyak 84,8% pasien memiliki ≥1 komorbid, dengan pneumonia (37,9%) dan kanker paru (33,3%) sebagai komorbid tersering. Karakteristik hematologis menunjukkan pola netrofilia dan limfopenia, serta peningkatan PLR (rata-rata 212,60 ± 85,97). Rerata PLR lebih tinggi pada pasien yang meninggal (216,14) dibandingkan yang hidup (196,70), namun tidak signifikan secara statistik (p = 0,483). Nilai cut-off PLR sebesar 211,25 memiliki sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 50%. Tidak terdapat hubungan bermakna antara PLR maupun NLR terhadap derajat obstruksi. KESIMPULAN: PLR cenderung lebih tinggi pada pasien yang meninggal dalam 90 hari pasca eksaserbasi akut PPOK, meskipun tidak signifikan secara statistik. PLR belum cukup kuat sebagai biomarker tunggal, namun berpotensi digunakan sebagai bagian dari algoritma prediksi risiko, terutama bila dikombinasikan dengan faktor klinis lainnya.
Keyword : PPOK, Eksaserbasi Akut, Mortalitas 90 Hari, Rasio Platelet- Limfosit, Biomarker Inflamasi.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | COPD, Acute Exacerbation, 90-Day Mortality, Platelet-to-Lymphocyte Ratio, Inflammatory Biomarker. |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS - Pulmonologi |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 14 Jan 2026 01:12 |
| Last Modified: | 14 Jan 2026 01:12 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/52521 |
