SETIADY, RINO (2025) EFEKTIFITAS PEMBERIAN ALPHA-1-ADRENERGIC BLOCKER TAMSULOSIN DIBANDINGKAN SILODOSIN TERHADAP KELUHAN LUTS (BPH) DI RSUP WAHIDIN SUDIROHUSODO DAN RS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR = EFECTIVENESS OF ALPHA-1-ADRENERGIC BLOCKERS TAMSULOSIN COMPARED TO SILODOSIN ON LOWER URINARY TRACT SYMPTOMS (LUTS) WITH BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH) PATIENTS IN WAHIDIN SUDIROHUSODO HOSPITAL AND UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR HOSPITAL. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
C045202003-Cover.png
Download (186kB) | Preview
C045202003-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (724kB)
C045202003-dp(FILEminimizer).pdf
Download (331kB)
C045202003-fullll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 25 September 2027.
Download (1MB)
Abstract (Abstrak)
ABSTRAK RINO SETIADY. EFEKTIFITAS PEMBERIAN ALPHA-1-ADRENERGIC BLOCKER TAMSULOSIN DIBANDINGKAN SILODOSIN TERHADAP KELUHAN LUTS (BPH) DI RSUP WAHIDIN SUDIROHUSODO DAN RS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR (dibimbing oleh Syarif Bakri dan Khoirul Kholis) Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah kondisi non-malignant di mana terjadi hiperplasia sel epitel dan sel stroma pada kelenjar prostat. Receptor α1-adrenergik terdapat secara merata di jaringan prostat, terdiri dari 3 subtipe yaitu α1a/A, α1b/B, dan α1d/D, yang secara molekuler dan fungsional teridentifikasi di jaringan stroma prostat. Penghambat α1 yang umum digunakan untuk pasien BPH-LUTS saat ini adalah jenis α1-selektif. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas bloker adrenergik α1 tamsulosin dibandingkan dengan silodosin pada pasien BPH dengan LUTS. Studi prospektif eksperimental ini melibatkan 50 pasien BPH dengan LUTS dari September hingga Desember 2024 di Poliklinik Urologi Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Data dikumpulkan dari catatan medis, dan penilaian tingkat LUTS dan disfungsi seksual dilakukan menggunakan kuesioner. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon untuk mengeksplorasi korelasi antara variabel. Studi ini melibatkan 50 pasien BPH yang mengalami LUTS. Peningkatan kategori LUTS sedang hingga ringan pada minggu ke-12 adalah 1 vs 5 (tamsulosin vs silodosin) dengan nilai p <0,001. Peningkatan nilai Q-max pada minggu ke-12 adalah 52% vs 76% (tamsulosin vs silodosin) dengan nilai p >0,05. Perburukan gejala disfungsi ereksi terjadi pada kedua kelompok subjek, baik pada kelompok yang diobati dengan tamsulosin maupun silodosin (nilai p <0,001). Penggunaan silodosin lebih unggul dalam mengurangi gejala LUTS dan meningkatkan nilai Q-max dibandingkan tamsulosin. Di sisi lain, ditemukan bahwa penggunaan silodosin lebih cenderung memperburuk gejala disfungsi ereksi. Kata kunci: Hiperplasia Prostat Benigna, LUTS, Tamsulosin, Silodosin.
Kata kunci: Hiperplasia Prostat Benigna, LUTS, Tamsulosin, Silodosin.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Benign Prostate Hyperplasia, LUTS, Tamsulosin, Silodoasin. |
| Subjects: | R Medicine > RD Surgery |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Bedah |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 12 Jan 2026 05:20 |
| Last Modified: | 12 Jan 2026 05:20 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/52424 |
