INTERAKSI PEMILIK HEWAN DAN PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP RABIES DI KECAMATAN RANTEPAO KABUPATEN TORAJA UTARA = INTERACTION OF ANIMAL OWNERS AND SOCIO-CULTURAL PERSPECTIVE AS AN EFFORTS TO PREVENT RABIES IN RANTEPAO DISTRICT NORTH TORAJA REGENCY


SYAHBAR, LUTFIAH KURNIA (2025) INTERAKSI PEMILIK HEWAN DAN PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP RABIES DI KECAMATAN RANTEPAO KABUPATEN TORAJA UTARA = INTERACTION OF ANIMAL OWNERS AND SOCIO-CULTURAL PERSPECTIVE AS AN EFFORTS TO PREVENT RABIES IN RANTEPAO DISTRICT NORTH TORAJA REGENCY. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
C031211062-Cover.jpg

Download (478kB) | Preview
[thumbnail of Bab1-2] Text (Bab1-2)
C031211062-1-2(FILEminimizer).pdf

Download (253kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
C031211062-dp(FILEminimizer).pdf

Download (194kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
C031211062-full(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 30 July 2027.

Download (990kB)

Abstract (Abstrak)

Latar belakang. Rabies merupakan penyakit zoonosis yang sangat mematikan dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Case Fatality Rate (CFR) yang mencapai 98% masih menempatkan rabies sebagai salah satu Neglacted Tropical Disease (NTD), yang akan menjadi tantangan dalam mencapai eliminasi rabies pada tahun 2030. Di Indonesia, Provinsi Sulawesi selatan termasuk dalam 5 wilayah dengan jumlah kematian tertinggi akibat rabies selama periode 2015-2019. Kabupaten Toraja Utara merupakan salah satu wilayah dengan angka kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) tertinggi di Sulawesi Selatan. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana interaksi pemilik hewan, dalam bingkai sosial budaya, berperan dalam upaya pencegahan rabies. Metode. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam menggunakan kuesioner terstruktur kepada 106 responden pemilik hewan penular rabies, yaitu anjing dan kucing. Hasil. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memelihara anjing karena nilai budaya dan peran fungsionalnya. Namun, tingkat vaksinasi rabies masih rendah (35,8%), hewan banyak dibiarkan berkeliaran (65,1%), dan hanya sedikit yang rutin memeriksakan kesehatan hewan ke dokter hewan (36,8%). Secara sosial budaya, kepercayaan lokal seperti anjing sebagai pembawa keberkahan turut memengaruhi pola interaksi dan pola pemeliharaan. Pengetahuan masyarakat tentang rabies cukup baik, namun masih terdapat kesenjangan dalam hal penanganan luka gigitan dan pemahaman risiko zoonosis. Kesimpulan. interaksi pemilik hewan sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan masih ditemukan banyak praktik berisiko terhadap penyebaran rabies. Upaya pencegahan perlu dilakukan melalui pendekatan One health yang terintegrasi, dengan melibatkan pemilik hewan sebagai subjek utama. Edukasi yang kontekstual dan berbasis nilai budaya lokal menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas program pengendalian rabies di daerah endemis seperti Toraja Utara.

Keyword : One health, pemilik hewan, rabies, sosial budaya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Animal owners,one health, rabies, socio-cultural.
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions (Program Studi): Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter Hewan
Depositing User: Rasman
Date Deposited: 12 Jan 2026 00:34
Last Modified: 12 Jan 2026 05:16
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/52413

Actions (login required)

View Item
View Item