KONDISI PADANG LAMUN PADA AREA DENGAN INTENSITAS TAMBATAN KAPAL BERBEDA DI PULAU SANANE, KABUPATEN PANGKAJENE KEPULAUAN = Seagrass Condition in Areas with Different Ship Mooring Intensities on Sanane Island, Pangkajene Kepulauan Regency


Pasaribu, Sarma Gunawan (2025) KONDISI PADANG LAMUN PADA AREA DENGAN INTENSITAS TAMBATAN KAPAL BERBEDA DI PULAU SANANE, KABUPATEN PANGKAJENE KEPULAUAN = Seagrass Condition in Areas with Different Ship Mooring Intensities on Sanane Island, Pangkajene Kepulauan Regency. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of sampul]
Preview
Image (sampul)
L011191144-A0sECeqBto9jS6Ry-20250821002300.png

Download (103kB) | Preview
[thumbnail of Bab 1-2] Text (Bab 1-2)
L011191144-1-2.pdf

Download (588kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
L011191144-dp.pdf

Download (180kB)
[thumbnail of Fulltext] Text (Fulltext)
L011191144-full.pdf
Restricted to Repository staff only until 8 August 2027.

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

Latar Belakang. Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang memeiliki fungsi ekologis, ekonomis, dan fisik penting, namun sering terabaikan dan terancam oleh aktivitas manusia seperti penambatan kapal. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi padang lamun pada area dengan intensitas tambatan kapal yang berbeda di Pulau Sanane, Kabupaten Pangkajene Kepulauan. Metode. Studi dilakukan pada Oktober-Desember 2023 diempat stasiun berbeda mewakili tingkat aktivitas penambatan kapal yang bervariasi. Sampling dilakukan pada 4 stasiun menggunakan transek line sepanjang 100m, transek kuadran 50 x 50cm untuk pengambilan data kerapatan, tutupan, dan komposisi jenis lamun. Pengambilan data kapal dilakukan dengan observasi langsung pada pagi dan sore serta analisis substrat sedimen di Laboratorium. Hasil. Ditemukan 6 jenis lamun, yakni Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Enhalus acoroides, dan Syringodium iseotifolium. Kerapatan lamun tertinggi tercatat di stasiun dengan aktivitas tambatan sedang (1922,8 tegakan/m²), sedangkan tutupan tertinggi ditemukan di stasiun dengan intensitas penambatan kapal sedang (18,3%). Analisis regresi menunjukkan pengaruh yang sangat lemah antara jumlah aktivitas penambatan kapal dan kerapatan lamun (R²=0,1) maupun tutupan lamun (R²=0,06), menandakan faktor lain seperti karakteristik substrat dan kualitas perairan juga berperan penting. Kesimpulan. Secara umum, kondisi padang lamun cenderung lebih baik pada area dengan intensitas tambatan kapal yang rendah, meskipun perbedaan antar lokasi tidak signifikan. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pertimbangan dalam pengelolaan dan konservasi ekosistem padang lamun di Pulau Sanane.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: lamun, tambatan kapal, Pulau Sanane
Subjects: S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan > Ilmu Kelautan
Depositing User: Nasyir Nompo
Date Deposited: 02 Jan 2026 01:08
Last Modified: 02 Jan 2026 01:08
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/52012

Actions (login required)

View Item
View Item