Potensi Simpanan Karbon Pada Berbagai Tutupan Lahan Di Kabupaten Luwu Utara = CARBON STORAGE POTENTIAL IN VARIOUS LAND COVERS IN NORTH LUWU REGENCY


DICKY, DICKY (2025) Potensi Simpanan Karbon Pada Berbagai Tutupan Lahan Di Kabupaten Luwu Utara = CARBON STORAGE POTENTIAL IN VARIOUS LAND COVERS IN NORTH LUWU REGENCY. Skripsi thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR.

[thumbnail of Sampul]
Preview
Image (Sampul)
M012231013-rXIlwmbx5qszELvK-20250716140318.png

Download (28kB) | Preview
[thumbnail of Bab 1 - 2] Text (Bab 1 - 2)
M012231013-1-2.pdf

Download (538kB)
[thumbnail of Daftar Pustaka] Text (Daftar Pustaka)
M012231013-dp.pdf

Download (219kB)
[thumbnail of Full teks] Text (Full teks)
M012231013-fulllll.pdf
Restricted to Repository staff only until 19 December 2027.

Download (2MB)

Abstract (Abstrak)

Latar Belakang. Kemampuan tumbuhan untuk menyerap CO₂ dari atmosfer dan menyimpan karbon dalam biomassa menentukan keberhasilan program mitigasi perubahan iklim. Tujuan. Penelitian ini membandingkan kapasitas penyimpanan karbon, penyerapan CO₂, dan pelepasan oksigen pada tiga tipe penggunaan lahan di Kabupaten Luwu Utara, Indonesia, yaitu hutan alam sekunder, Agroforestry kakao, dan kelapa sawit. Metode. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: kegiatan lapangan untuk mengumpulkan data vegetasi dan analisis laboratorium yang dilakukan di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Biomassa pohon diestimasi dengan menggunakan persamaan alometrik berdasarkan diameter dan tinggi pohon, sedangkan biomassa tumbuhan bawah dan serasah dihitung dengan menggunakan metode berat kering dan kandungan karbon. Hasil menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kapasitas penyimpanan karbon di antara penggunaan lahan. Hutan alam sekunder memiliki kapasitas penyimpanan karbon tertinggi (264,45 ton ha⁻¹), yang berkontribusi terhadap penyerapan CO₂ 969,65 ton ha⁻¹ dan pelepasan O₂ 705,2 ton ha⁻¹. Keanekaragaman hayati yang tinggi dan struktur vegetasi yang kompleks memungkinkan hutan sekunder alami menyerap lebih banyak karbon melalui fotosintesis. Agrofotestry kakao memiliki kapasitas penyimpanan karbon sebesar 182,43 ton ha⁻¹, penyerapan 668,90 ton ha⁻¹, dan pelepasan 486,48 ton ha⁻¹. Perbedaan ini disebabkan oleh struktur vegetasi agrofotestry kakao yang lebih sederhana dibandingkan dengan hutan sekunder alami. Sementara itu, perkebunan kelapa sawit memiliki kapasitas penyimpanan karbon terendah (123,92 ton ha⁻¹), penyerapan 454,38 ton ha⁻¹, dan pelepasan 330,46 ton ha⁻¹. Temuan kami menunjukkan bahwa agrofotestry kakao masih lebih unggul dibandingkan dengan perkebunan kelapa sawit karena adanya pohon peneduh dan tanaman budidaya, dan sistem monokultur kurang efektif dalam memitigasi perubahan iklim.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Carbon Stock, climate change, CO2, land uses, oxygen release
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions (Program Studi): Fakultas Kehutanan > Kehutanan
Depositing User: - Andi Anna
Date Deposited: 19 Dec 2025 05:24
Last Modified: 19 Dec 2025 05:24
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/51836

Actions (login required)

View Item
View Item