SIMANJUNTAK, IVALDO ADAM (2025) ANALISIS SPASIAL KEJADIAN TB DI KOTA MAKASSAR TAHUN 2021-2023 = SPATIAL ANALYSIS OF TUBERCULOSIS INCIDENTS IN MAKASSAR CITY 2021-2023. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
K012221036-T0GLspfjBINkZauo-20250516154119.jpg
Download (187kB) | Preview
K012221036-1-2.pdf
Download (312kB)
K012221036-dp.pdf
Download (152kB)
K012221036-fullllll.pdf
Restricted to Repository staff only until 9 May 2027.
Download (4MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Tuberkulosis (TB), sebuah ancaman kesehatan global, memberikan beban signifikan bagi Indonesia, menempati peringkat ketiga di dunia. Kota Makassar telah mengalami peningkatan kasus TB yang cukup besar. Pengendalian TB yang efektif sangat krusial bagi kesehatan masyarakat dan pembangunan ekonomi. Integrasi teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) ke dalam strategi manajemen dan perawatan sangat penting untuk meningkatkan upaya pengendalian. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial kasus tuberkulosis paru (TB) di Kota Makassar pada periode 2021-2023, dengan mempertimbangkan klaster TB, kepadatan penduduk, wilayah kumuh, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan tingkat kemiskinan. Metode. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik. Desain penelitian ekologi spasial diterapkan. Hasil. Sebanyak 13.222 kasus tuberkulosis teridentifikasi. Laki-laki merupakan kelompok yang paling sering terdampak, masing-masing sebesar 56,16%, 58,19%, dan 58,05% pada tahun 2021, 2022, dan 2023. Kelompok umur 55 tahun ke atas merupakan proporsi terbesar, yaitu 22,73% pada tahun 2021, 24,72% pada tahun 2022, dan 26,54% pada tahun 2023. Korelasi positif signifikan ditemukan antara tuberkulosis dengan daerah kumuh, dengan koefisien korelasi r=0,690 (p=0,006) pada tahun 2021, r=0,733 (p=0,003) pada tahun 2022, dan r=0,696 (p=0,006) pada tahun 2023, ketersediaan fasilitas kesehatan, dengan koefisien korelasi r=0,586 (p=0,028) pada tahun 2021, r=0,583 (p=0,029) pada tahun 2022, dan r=0,436 (p=0,038) pada tahun 2023, serta tingkat kemiskinan, dengan koefisien korelasi r=0,917 (p=0,000) pada tahun 2021, r=0,966 (p=0,001) pada tahun 2022, dan r=0,944 (p=0,001) pada tahun 2023. Tidak ditemukan korelasi signifikan antara tuberkulosis dengan kepadatan penduduk, dengan nilai p sebesar 0,628 pada tahun 2021, 0,455 pada tahun 2022, dan 0,649 pada tahun 2023. Analisis spasial mengungkapkan pola pengelompokan dengan autokorelasi spasial tinggi-tinggi di 10 wilayah pada tahun 2021, meningkat menjadi 12 wilayah pada tahun 2022, dan selanjutnya menjadi 17 wilayah pada tahun 2023. Kesimpulan. Tiga faktor diidentifikasi sebagai penyumbang tingginya insiden tuberkulosis di Kota Makassar pada tahun 2021-2022, yaitu wilayah kumuh, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan kemiskinan. Pola spasial menunjukkan tren peningkatan pada klaster tinggi-tinggi dari tahun ke tahun.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tuberkulosis; Sistem Informasi Geospasial (SIG); Wilayah Kumuh; Keluarga Miskin |
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Unnamed user with username pkl2 |
| Date Deposited: | 19 Dec 2025 03:28 |
| Last Modified: | 19 Dec 2025 03:28 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/51806 |
