RITUAL MAPPACAKKE WANUA SEBAGAI UPAYA PENYELESAIAN KONFLIK SECARA BUDAYA: PENDEKATAN ETNOGRAFI DAN KAJIAN BUDAYA = Mappacakke Wanua Tradition in Luwu Regency: Ethnographic Approach and Cultural Study


MASYKUR, NURHAMIDA HUMAERAH (2025) RITUAL MAPPACAKKE WANUA SEBAGAI UPAYA PENYELESAIAN KONFLIK SECARA BUDAYA: PENDEKATAN ETNOGRAFI DAN KAJIAN BUDAYA = Mappacakke Wanua Tradition in Luwu Regency: Ethnographic Approach and Cultural Study. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.

[thumbnail of Cover]
Preview
Image (Cover)
F021211020-Cover.jpg

Download (59kB) | Preview
[thumbnail of Bab1-2] Text (Bab1-2)
F021211020-1-2(FILEminimizer).pdf

Download (303kB)
[thumbnail of Dapus] Text (Dapus)
F021211020-dp(FILEminimizer).pdf

Download (152kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
F021211020-fulll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 24 July 2027.

Download (986kB)

Abstract (Abstrak)

ABSTRAK Nurhamida Humaerah Masykur 2025, “Ritual Mappacakke Wanua Di Kabupaten Luwu: Pendekatan Etnografi Dan Kajian Budaya”. (Dibimbing oleh. Andi Akhmar) Penelitian ini mengkaji Ritual Mappacakke Wanua di Kabupaten Luwu sebagai mekanisme penyelesaian konflik berbasis budaya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis menggunakan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski dan Talcott Parsons untuk memahami fungsi sosial dan kultural tradisi ini, yang meliputi tiga tahap utama: Malekka Wae (pengambilan air suci), Maddoja Roja (doa kolektif sembilan ulama), dan Mangeppi Wae (pemercikan air suci ke wilayah komunitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mappacakke Wanua berperan strategis dalam memulihkan hubungan pascakonflik, memperkuat solidaritas, dan menjaga harmoni sosial. Studi kasus konflik antara Desa Kopi-Kopi dan Desa Karangan tahun 2002 membuktikan bahwa tradisi ini mampu meredakan dendam historis, mengatasi polarisasi identitas, serta mengembalikan kepercayaan antarkelompok. Prosesi ritual menjadi ruang mediasi simbolis yang mempertemukan pihak bertikai dalam suasana sakral, menanggalkan hierarki sosial sementara (fase liminal), dan menciptakan communitas yang memfasilitasi kesepakatan damai. Pembahasan mengungkap keberhasilan tradisi ini bertumpu pada simbol-simbol adat, partisipasi kolektif, serta peran tokoh adat dan agama. Nilai-nilai seperti assitinajang (musyawarah) dan masseddi’ siri’ (kehormatan kolektif) menjadi landasan moral pelaksanaannya. Mappacakke Wanua terbukti relevan sebagai instrumen resolusi konflik di era modern, meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan pergeseran nilai generasi muda. Kata kunci: Mappacakke Wanua, resolusi konflik, ritual, liminalitas etnografi, fungsionalisme, budaya lokal, Luwu.

Keyword : Mappacakke Wanua, resolusi konflik, ritual, liminalitas etnografi, fungsionalisme, budaya lokal, Luwu.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Mappacakke Wanua, conflict resolution, ritual, ethnographic liminality, functionalism, local culture, Luwu.
Subjects: P Language and Literature > PC Romance languages
Divisions (Program Studi): Fakultas Ilmu Budaya > Sastra Bugis-Makassar
Depositing User: Rasman
Date Deposited: 11 Dec 2025 02:34
Last Modified: 11 Dec 2025 02:34
URI: http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/51279

Actions (login required)

View Item
View Item