SYAIFUL, FITRIA RAMADHANI (2025) HUBUNGAN PANJANG – BOBOT DAN FAKTOR KONDISI UDANG WINDU Penaeus monodon (Fabricius, 1798) HASIL TANGKAPAN DI DESA AMPEKALE, KECAMATAN BONTOA, KABUPATEN MAROS = LENGTH-WEIGHT RELATIONSHIP AND CONDITION FACTORS OF TIGER SHRIMP Penaeus monodon (Fabricius, 1798) CATCHED IN AMPEKALE VILLAGE, BONTOA DISTRICT, MAROS REGENCY. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
L021211058-Cover.jpg
Download (191kB) | Preview
L021211058-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (245kB)
L021211058-dp(FILEminimizer).pdf
Download (124kB)
L021211058-fullllll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 28 May 2027.
Download (855kB)
Abstract (Abstrak)
ABSTRAK Fitria Ramadhani Syaiful. Hubungan panjang-bobot udang windu Penaeus monodon (Fabricius 1978) hasil tangkapan di Desa Ampekale, Kecmatan Bontoa, Kabupaten Maros (dibimbing oleh Joeharnani Tresnati). Latar belakang. Informasi biologi perikanan sangat diperlukan untuk mengetahui status populasi komoditas perikanan di alam, terutama bagi spesies dengan nilai ekonomi tinggi seperti udang windu. Salah satu daerah yang menjadi lokasi penangkapan udang windu secara alami adalah Desa Ampekale. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi udang windu hasil tangkapan di Desa Ampekale. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai pola pertumbuhan dan kondisi tubuh udang windu di Desa Ampekale. Metode. Penelitian ini dilakukan di bulan Desember 2024 hingga akhir Januari 2025. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval waktu dua minggu selama dua bulan di tiga stasiun yang berbeda. Stasiun I berada di muara sungai, stasiun II berada di dekat mangrove, dan stasiun III berada di perairan laut. Pengukuran panjang dan bobot dilakukan langsung di lapangan, dan data dianalisis menggunakan program software Microsoft Excel 2019. Hasil. Jumlah sampel udang windu terdiri dari 154 ekor yang terdiri dari 78 ekor udang jantan dan 76 ekor udang betina dengan nilai koefisien b udang windu jantan dan betina di stasiun I masing-masing sebesar 2,3771 dan 2,7043. Pada stasiun II koefisien b udang windu jantan dan betina 2,5738 dan 2,1252. Pada stasiun III koefisien b udang windu jantan dan betina 2,7904 dan 2,9150. Hasil analisis ini menunjukkan tipe pertumbuhan yang bervariasi antara allometrik negatif dan isometrik. Nilai faktor kondisi tertinggi pada penelitian ini sebesar 1,2787 yang menunjukkan dalam kondisi baik. Kesimpulan. Hubungan panjang dan bobot udang windu (Penaeus monodon) hasil tangkapan nelayan di Desa Ampekale berdasarkan stasiun pengambilan sampel memiliki pola pertumbuhan dominan yaitu allometrik negatif dimana pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan bobot tubuhnya. Faktor kondisi dengan nilai rata-rata di atas satu mengindikasikan bahwa perairan Desa Ampekale merupakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan udang windu secara alami.
Keyword : udang windu, panjang-bobot, allometrik negatif, isometrik, faktor kondisi, Desa Ampekale.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tiger prawn, length-weight, negative allometric, isometric, condition factor, Ampekale Village. |
| Subjects: | Q Science > Q Science (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan > Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 12 Nov 2025 05:45 |
| Last Modified: | 12 Nov 2025 05:45 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/50619 |
