IBRAHIM, MOHAMMAD FACHRI (2024) PENGARUH KEMORADIOTERAPI TERHADAP TRANSPOR MUKOSILIAR DITINJAU DARI KADAR PROTEIN KINASE C PADA PASIEN KANKER NASOFARING DI MAKASSAR = THE EFFECT OF CHEMOTHERAPY ON MUCOCILIARY TRANSPORT REVIEWED FROM THE LEVEL OF PROTEIN KINASE C IN NASOPHARYNGEAL CANCER PATIENTS IN MAKASSAR. Skripsi thesis, Universitas Hasanuddin.
C035201001-TCun4gPVrmU2Wl0G-20250508124234.png
Download (357kB) | Preview
C035201001-1-2.pdf
Download (3MB)
C035201001-dp.pdf
Download (58kB)
C035201001-fulll.pdf
Restricted to Repository staff only until 29 November 2026.
Download (10MB)
Abstract (Abstrak)
MOHAMMAD FACHRI IBRAHIM. Pengaruh Kemoradioterapi Terhadap Transpor Mukosiliar Ditinjau Dari Kadar Protein Kinase C Pada Pasien Kanker Nasofaring Di Makassar (Dibimbing oleh Abdul Qadar Punagi and Sutji Pratiwi Rahardjo) Latar Belakang: Transpor mukosiliar bergantung pada dua komponen utama: sekresi mukus oleh sel goblet dan aktivitas sel epitel bersilia. Mukus menangkap partikel dan patogen yang terhirup, sedangkan sel bersilia menggerakkan mukus untuk pembersihan. Kemoterapi dan radioterapi pada pasien kanker nasofaring dapat menyebabkan stres oksidatif, ketidakseimbangan antara produksi spesies oksigen reaktif (ROS) dan sistem pertahanan antioksidan. Protein Kinase C (PKC), protein yang berhubungan dengan stres, dapat memengaruhi transpor mukosiliar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek kemoterapi terhadap transpor mukosiliar nasal pada pasien kanker kepala dan leher. Metode: Penelitian kohort prospektif dengan analisis observasional dilakukan di Poliklinik Telinga, Hidung, dan Tenggorokan-Kepala Leher RSUD Dr. Wahidin Sudirohusodo, RSUD Universitas Hasanuddin, dan RSUD Pelamonia. Analisis statistik meliputi uji Friedman, uji Kruskal-Wallis, dan analisis korelasi. Hasil: Kemoterapi meningkatkan kadar PKC secara signifikan, dengan median 14,10 sebelum terapi (rentang: 0,99–130,90) dan 15,52 setelah radioterapi (rentang: 0,95–188,32), keduanya dengan nilai-p <0,001. Durasi uji sakarin juga berubah secara signifikan di seluruh tahap terapi (p <0,001). Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif yang kuat antara kadar PKC dan hasil uji sakarin, dengan nilai-r sebesar 0,839 (sebelum kemoterapi), 0,909 (setelah kemoterapi), dan 0,942 (setelah radioterapi), semuanya dengan nilai-p <0,001. Kesimpulan: Kemoterapi mengganggu transportasi mukosiliar dengan mengurangi aktivitas sel siliar, memperpanjang durasi transportasi, dan meningkatkan stres oksidatif seperti yang ditunjukkan oleh kadar PKC. Korelasi signifikan diamati antara penanda stres oksidatif dan transportasi mukosiliar, menyoroti dampak kemoterapi pada fungsi epitel hidung.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Spesies oksigen relatoif, antioksidan, sakarin, sel goblet |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS Ilmu Penyakit THT |
| Depositing User: | Nasyir Nompo |
| Date Deposited: | 03 Nov 2025 02:14 |
| Last Modified: | 03 Nov 2025 02:14 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/50387 |
