MULYADI A, AWALUDDIN ANDY (2025) PERBANDINGAN GEJALA SISA PASCA TUBERKULOSIS PARU PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DAN TANPA DIABETES MELITUS = PERBANDINGAN GEJALA SISA PASCA TUBERKULOSIS PARU PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DAN TANPA DIABETES MELITUS. Thesis thesis, UNIVERSITAS HASANUDDIN.
C185202004---------.png
Download (669kB) | Preview
C185202004-1-2.pdf
Download (1MB)
C185202004-dp.pdf
Download (109kB)
C185202004-full.pdf
Restricted to Repository staff only until 8 January 2027.
Download (6MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang bahkan setelah terapi berhasil. Diabetes melitus (DM) sebagai komorbiditas diketahui memperburuk manifestasi klinis dan hasil terapi TB. Namun, efek jangka panjang interaksi TB-DM pasca terapi masih belum dipahami sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan gejala sisa pasca-TB pada pasien dengan dan tanpa DM. Metode: Studi cross-sectional deskriptif ini melibatkan populasi pasien pasca-TB di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan Balai Kesehatan Paru Masyarakat Makassar. Setiap subjek menjalani penilaian gejala klinis, pemeriksaan spirometri, dan foto toraks untuk mengungkap pola gangguan paru pasca-TB. Hasil: Dari 106 subjek penelitian, 45 (42,45%) memiliki komorbid DM dan 61 (57,54%) tanpa DM. Secara umum, pasien pasca TB mengalami gejala sisa pasca terapi dengan keluhan sesak napas (68,9%) dan batuk (60,4%) yang umum ditemui. Pasien dengan DM menunjukkan prevalensi gejala batuk dan batuk darah yang lebih tinggi, dengan batuk darah terjadi pada 22,2% pasien dengan DM dibandingkan 8,2% pada pasien tanpa DM. Gangguan restriktif pada spirometri lebih menonjol pada kelompok DM (80% vs 59%), begitu pula dengan fibrosis pada foto toraks (97,8% vs 96,7%). Meski terdapat perbedaan pola, hubungan antara status DM dengan gejala klinis, fungsi paru, dan gambaran radiologis tidak mencapai signifikansi statistik. Kesimpulan: Pasien pasca-TB paru dengan DM cenderung menunjukkan profil klinis yang berbeda, ditandai dengan prevalensi lebih tinggi pada gejala batuk dan batuk darah, gangguan restriktif, dan fibrosis paru. Pasien pasca TB-DM menunjukkan penurunan kapasitas paru yang lebih berat dan gambaran fibrosis, kavitas, bronkiektasis, serta derajat keparahan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu dalam manajemen pasca-TB, terutama pada pasien dengan komorbid DM.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tuberkulosis paru, gejala pasca-TB, diabetes melitus |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kedokteran > PPDS - Pulmonologi |
| Depositing User: | - Nurhasnah |
| Date Deposited: | 31 Oct 2025 00:52 |
| Last Modified: | 31 Oct 2025 00:52 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/50356 |
