MUHAMMAD M, ASYHARI (2025) ANALISIS SPASIAL KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI KABUPATEN GOWA DAN KABUPATEN MAROS TAHUN 2023 = SPATIAL ANALYSIS OF PULMONARY TUBERCULOSIS PREVALENCE IN GOWA AND MAROS DISTRICTS IN 2023. Thesis thesis, Universitas Hasanuddin.
K012231048-Cover.jpg
Download (432kB) | Preview
K012231048-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (322kB)
K012231048-dp(FILEminimizer).pdf
Download (110kB)
K012231048-fullll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 23 October 2027.
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
Latar Belakang. Tuberkulosis paru tetap menjadi masalah kesehatan global dengan Indonesia sebagai negara dengan beban kasus tertinggi kedua di dunia. Di Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros, peningkatan kasus tuberkulosis paru memerlukan pemetaan spasial guna mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ketinggian wilayah, cakupan rumah sehat, kepadatan penduduk, dan persentase penduduk miskin dengan kejadian tuberkulosis paru di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros pada tahun 2023. Metode. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan studi ekologi. Analisis spasial dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan serta menggunakan analisis univariat dan bivariat untuk menguji hubungan antar variabel di 32 kecamatan (18 di Gowa dan 14 di Maros). Teknik exhaustive sampling digunakan, dengan seluruh kecamatan sebagai unit analisis. Hasil. Terdapat hubungan yang signifikan antara ketinggian wilayah (p=0,0000; r=-0,6883) dan kepadatan penduduk (p=0,0000; r=0,8794) dengan kejadian tuberkulosis paru. Sebaliknya, cakupan rumah sehat (p=0,0939; r=0,3012) dan persentase penduduk miskin (p=0,2676; r=-0,2020) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kejadian tuberkulosis paru. Kesimpulan. Ketinggian wilayah dan kepadatan penduduk berhubungan secara signifikan dengan kejadian tuberkulosis paru di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros pada tahun 2023. Saran. Pemetaan spasial perlu diintegrasikan dalam perencanaan dan evaluasi program pengendalian tuberkulosis paru serta penyakit-penyakit lainnya. Pemerintah daerah dapat mempertimbangkan faktor ketinggian wilayah dalam merancang strategi pengendalian, terutama di daerah dataran rendah dengan angka kejadian tinggi. Upaya pencegahan dan pengendalian perlu difokuskan pada peningkatan akses layanan kesehatan, edukasi masyarakat, serta perbaikan kebersihan lingkungan, khususnya di wilayah padat penduduk.
Keyword : Tuberkulosis Paru; Analisis Spasial; Ketinggian Wilayah; Kepadatan Penduduk.
| Item Type: | Thesis (Thesis) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Pulmonary Tuberculosis, Spatial Analysis, Altitude, Population Density. |
| Subjects: | Q Science > Q Science (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 28 Oct 2025 01:10 |
| Last Modified: | 28 Oct 2025 01:10 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/50194 |
