WIJAYA, ERI (2025) EKSPLORASI KEJADIAN ENVIRONMENTAL ENTERIC DYSFUNCTION DAN KONSEKUENSINYA TERHADAP LUARAN KEHAMILAN: STUDI KOHORT PADA IBU HAMIL DI PEMUKIMAN KUMUH KOTA MAKASSAR, INDONESIA = THE EXPLORATION OF MATERNAL ENVIRONMENTAL ENTERIC DYSFUNCTION AND ITS CONSEQUENCES ON PREGNANCY OUTCOMES: A BIRTH COHORT STUDY AMONG PREGNANT WOMEN LIVING IN INFORMAL SETTLEMENTS IN MAKASSAR, INDONESIA. Disertasi thesis, Universitas Hasanuddin.
K013201030-Cover.png
Download (324kB) | Preview
K013201030-1-2(FILEminimizer).pdf
Download (698kB)
K013201030-dp(FILEminimizer).pdf
Download (123kB)
K013201030-fulll(FILEminimizer).pdf
Restricted to Repository staff only until 9 January 2027.
Download (2MB)
Abstract (Abstrak)
ABSTRAK The Exploration of Maternal Environmental Enteric Dysfunction and Its Consequences on Pregnancy Outcomes: A Birth Cohort Study Among Pregnant Women Living in Informal Settlements in Makassar, Indonesia. Latar belakang. Kondisi lingkungan yang buruk, seperti air, sanitasi, dan hygiene yang tidak memadai, berkaitan dengan luaran kehamilan yang buruk melalui berbagai mekanisme, termasuk Environmental Enteric Dysfunction (EED). EED adalah gangguan usus subklinis yang ditandai oleh peradangan kronis dan gangguan penyerapan nutrisi. Kondisi ini umum terjadi di pemukiman informal dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi. Selama kehamilan, EED pada ibu dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin, meningkatkan risiko hasil kelahiran buruk seperti berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, dan Intrauterine Growth Restriction (IUGR). Namun, mekanisme pasti tentang dampak EED pada kehamilan masih belum sepenuhnya dipahami. Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara status gizi kehamilan dan kondisi lingkungan terhadap kejadian EED serta dampaknya terhadap luaran kelahiran pada populasi ibu hamil di wilayah permukiman kumuh kota Makassar. Metode. Penelitian ini dilakukan secara kohort prospektif di Kecamatan Tallo, sebuah wilayah kumuh di Kota Makassar. Survey, follow-up, serta pengumpulan sampel biomedis dilakukan terhadap 176 ibu hamil. Biomarker EED yang diperiksa termasuk penanda inflamasi, C-reactive protein (CRP), dan permeabilitas usus yaitu α-1 antitrypsin (AAT), dengan menggunakan enzyme-linked-immunosorbent assay (ELISA). Uji reagen Colilert digunakan untuk mendeteksi dan menghitung total coliform dan Escherichia coli dalam sampel air minum. Pemeriksaan laboratorium dilakukan di HUMRC RSP Unhas dan laboratorium RISE FKM Unhas. Hasil. Biomarker EED menunjukkan korelasi yang signifikan, AAT terkait dengan LAZ yang lebih rendah (p=0,010) dan SGA (p=0,011), dan tidak dengan panjang badan lahir (p=0,088). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan untuk panjang badan lahir (p=0,088), kelahiran prematur (p=0,158), dan BBLR (p=0,191). CRP secara signifikan berhubungan dengan panjang lahir yang lebih pendek (p=0,037) tetapi tidak dengan kelahiran prematur, BBLR, LAZ, atau SGA (p>0,05). Kontaminasi air yang tinggi dengan 59,88% sampel menunjukkan tingkat coliform yang sangat tinggi dan 30,79% tingkat E. coli yang tinggi. Hubungan yang signifikan ditemukan antara sumber air dan PTB (p=0,022) dan antara jenis jamban dan SGA (p=0,025). Sanitasi yang buruk meningkatkan risiko PTB (ARR=10,06; p=0,000) dan SGA (ARR=8,05; p=0,000), dengan sumur yang tidak terlindungi meningkatkan risiko PTB (RR=21,99, p=0,002). Prevalensi defisiensi besi cukup tinggi (62,4% moderate, 23,7% severe), berhubungan dengan pendapatan rumah tangga (moderate: aOR=2,97, p=0,040; severe: aOR = 3,45, p=0,010) dan jarak kehamilan (moderate: aOR=15,96, p=0,019; severe: aOR=10,48, p=0,009). Namun, tidak ada hubungan yang signifikan yang ditemukan antara defisiensi besi dengan BBLR, kelahiran prematur, dan SGA (p>0,005). Kesimpulan. Biomarker EED, khususnya AAT, berhubungan signifikan dengan LAZ yang lebih rendah dan SGA, sementara CRP terkait dengan panjang lahir yang lebih pendek. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara biomarker EED dengan kelahiran prematur atau BBLR. Sanitasi yang buruk dan sumber air yang tidak aman meningkatkan risiko PTB dan SGA. Tingginya prevalensi defisiensi besi pada ibu hamil menunjukkan hubungan dengan faktor sosial-ekonomi dan jarak antar kehamilan, meskipun tidak berkorelasi langsung dengan hasil kelahiran yang buruk.
Keyword : environmental enteric dysfunction, biomarker, paparan lingkungan, gizi maternal, luaran kehamilan, kesehatan neonatal.
| Item Type: | Thesis (Disertasi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Environmental enteric dysfunction, environmental quality, environmental exposure, birth outcomes, biomarkers, maternal health, neonatal health. |
| Subjects: | Q Science > Q Science (General) |
| Divisions (Program Studi): | Fakultas Kesehatan Masyarakat > Kesehatan Masyarakat |
| Depositing User: | Rasman |
| Date Deposited: | 26 Sep 2025 07:32 |
| Last Modified: | 26 Sep 2025 07:32 |
| URI: | http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/49895 |
