Path: Top >> Disertasi

NARSISISME DANA ASPIRASI MASYARAKAT DALAM PENGANGGARAN DAERAH: STUDI INTERPRETIF-KRITIS DENGAN KAJIAN ETNO-SEMIOTIKA

NARCISSISM OF THE PUBLIC ASPIRATION FUNDS IN LOCAL GOVERNMENT BUDGETING: CRITICAL-INTERPRETIVE STUDY WITH ETHNO-SEMIOTICS ANALYSIS

2015
Disertasi/PhD Theses from / 2016-01-06 09:05:39
Oleh : OKTAVIANUS PASOLORAN
Dibuat : 2016-01-06, dengan 0 file

Keyword : Narsisisme, Penganggaran Daerah, Dana Aspirasi Masyarakat, Interpretif-Kritis, Etno-Semiotika

Penelitian ini bertujuan untuk (1) memahami bagaimana orientasi politik penganggaran daerah dalam melayani kepentingan masyarakat; (2) memahami bagaimana interaksi pemerintah daerah dan DPRD dalam kebijakan dana aspirasi masyarakat; (3) memahami bagaimana dana aspirasi masyarakat dimaknai sebagai bagian dari realitas sosial anggaran daerah, dan (4) memahami, menganalisis, dan menjawab mengapa dan bagaimana kebijakan dana aspirasi masyarakat dapat memfasilitasi narsisisme dalam penganggaran daerah. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif-kritis dengan kajian etno-semiotika berbasis filsafat Roland Barthes. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman (1) postur anggaran daerah yang kurang ideal dan tingginya korupsi anggaran daerah yang menunjukkan bahwa distribusi sumber daya publik belum sepenuhnya berorientasi pada kepentingan masyarakat; (2) wacana dan realitas dana aspirasi masyarakat telah menjadi model yang diciptakan dan direproduksi oleh aktor anggaran untuk kepentingan pribadi dan politik; (3) kajian semiotika tingkat mikro menunjukkan bahwa pemaknaan denotasi dana aspirasi masyarakat oleh DPRD sebagai salah satu kebijakan untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat berbasis daerah pemilihan, selanjutnya pada tingkat konotasi dana aspirasi masyarakat dimaknai sebagai dana titipan, pork barrel, dana politis, aspirasi dan inspirasi aktor anggaran, kehilangan makna, dan tidak berdampak. Sedangkan analisis makro memberikan pemahaman bahwa dana aspirasi masyarakat telah menjadi mitos yang seolah-olah sangat “natural” sebagai pemenuhan kewajiban “suci” aktor anggaran, namun dibalik itu ada motivasi selfish, opportunis, pragmatis, untuk kepentingan diri sendiri, politik, dan pencitraan, dan akhirnya menggambarkan ideologi bagaimana dominasi DPRD dalam penganggaran daerah; serta (4) narsisisme dana aspirasi masyarakat menjadi ekspresi atas budaya anggaran daerah yang diserap sebagai bentuk identitas aktor anggaran dan menjadi sarana impression bahwa mereka peduli dengan masyarakat. Dana aspirasi masyarakat telah berdifusi sebagai narasi yang diciptakan untuk sebuah kepentingan, menjadi ritual dalam penganggaran daerah dan akhirnya menjadi sakral. Hasil penelitian memberikan implikasi (1) aspirasi masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran daerah seharusnya tidak hanya menjadi realitas politik tetapi juga realitas sosial, mental dan fisis bahwa dana aspirasi masyarakat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat; (2) penganggaran daerah harus didorongoleh motivasi altruistik dan menjadi sebuah hasil konstruksi sosial yang sarat nilai, memberdayakan, emansipatoris, dan bahwa penganggaran daerah didedikasikan untuk kesejahteraan masyarakat.Kata Kunci: Narsisisme, Penganggaran Daerah, Dana Aspirasi Masyarakat, Interpretif-Kritis, Etno-Semiotika

Deskripsi Alternatif :

This study aims are (1) to understand how the political orientation of local government budgeting in serving the public interest; (2) to understand how the interaction of executives and legislatives on policy the public aspiration funds; (3) to understand how the public aspiration funds interpreted as part of the social reality of the budget, and (4) to understand, analyze, and answer the question of why and how the policy of the public aspiration funds to facilitate narcissism in local government budgeting. This research uses the critical-interpretive paradigm with ethno-semiotics study based on philosophy of Roland Barthes. The results of the research provides an understanding (1) posture of the local government budgets is less than ideal and the high level of corruption of local government budgets which showed that the distribution of public resources have not been fully oriented to the public interests; (2) discourse and the reality of the public aspiration funds has become a model created and produced by actors for the self-interest and politics; (3) the study of semiotics micro level suggests that the meaning of denotation the public aspiration funds by legislatures as one of the policies for the equitable welfare of the community-based constituencies, then the level of connotation the public aspiration funds interpreted as funds deposit box, pork barrel, funds political, aspiration and inspiration by actors, loss of meaning, and no impact. While the macro analysis provide an understanding that the public aspiration funds becomes a myth that seems very "natural" as the fulfillment of the obligations "holy" actor budgets, but behind it there is the motivation selfish, opportunistic, pragmatic, self-interest, political, and imaging and finally describe the ideology of how the dominance of legislatives in budgeting; and (4) narcissism of the public aspiration funds becomes an expression of local government budgeting culture which is absorbed as a form of identity and used as an the impression facility by actors that they care about the community. The public aspiration funds is diffused as a narrative created by an interest, becoming a ritual in local government budgeting and eventually becomes sacred. Results of the research have implications (1) the public aspiration funds in the planning and budgeting process should not only be a political reality but also the social, mental, and physical realities that the public aspiration funds are actually used for the benefit of society; (2) budgeting should be driven by the altruistic motivation and becomes a social construction the value-laden, empowering, emancipatory, and that the local government budgeting is dedicated to the welfare of society.Keywords: narcissism, local government budgeting, public aspiration funds, critical-interpretive, ethno-semiotics

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

Print ...

Kontributor...


  • Editor: Zohra