Hasanuddin University

MINERALOGI, GEOKIMIA DAN SIFAT “LEACHING” PADA ENDAPAN LATERIT NIKEL SOROAKO, SULAWESI SELATAN, INDONESIA

DSpace/Manakin Repository

Show simple item record

dc.contributor.author Sufriadin
dc.date.accessioned 2013-07-08T23:58:30Z
dc.date.available 2013-07-08T23:58:30Z
dc.date.issued 2013-07-09
dc.identifier.uri http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/5119
dc.description.abstract Endapan laterit nikel Soroako yang terdapat di bagian tengah Pulau Sulawesi merupakan sumber utama nikel dari Indonesia. Endapan ini telah ditambang dan diolah dengan menggunakan teknik peleburan konvensional oleh PT. Vale Indonesia menghasilkan Ni matte. Endapan laterit nikel Soroako terdiri dari dua tipe berdasarkan tingkat serpentinisasi batuan asalnya yaitu: tipe barat dan tipe timur. Bijih tipe barat berasal dari hasil pelapukan kimia batuan peridotit tak terserpentinkan; sedangkan bijih tipe timur dibentuk oleh hasil pelapukan kimia batuan ultramafik dengan tingkat serpentinisasi sedang hingga tinggi. Studi ini melaporkan hasil analisis mineralogi dan geokimia endapan laterit nikel daerah Soroako dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara batuan dasar peridotit terutama peran tingkat serpentinisasinya terhadap perkembangan endapan laterit nikel. Percobaan pelindian juga telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi mineral bijih saprolit terhadap perilaku disolusi mineral dan laju pelindian logam serta implikasinya terhadap pengolahan bijih Ni secara hydrometalurgi. Analisis petrologi dan geokimia menunjukkan bahwa batuan peridotit di daerah Soroako merupakan bagian dari ofiolit dengan kandungan olivin tinggi yang kaya nikel. Batuan ini merupakan protolit yang paling sesuai dalam membentukan bijih nikel laterit kadar tinggi. Proses serpentinisasi menyebabkan hilangnya sebagian unsur Ni yang berdampak pada penurunan kadar Ni pada batuan dasar blok Petea. Tingginya kadar Ni pada bijih nikel laterit blok barat relatif terhadap kadar bijih nikel blok Petea sebagai konsekuensi dari adanya perbedaan konsentrasi Ni pada protolit. Studi mineralogi mengindikasikan bahwa pelapukan kimia batuan peridotit pada blok barat yang berkomposisikan mineral-mineral primer (olivin dan sedikit piroksin serta spinel) mengakibatkan proses transformasi mineral-mineral tersebut menjadi goetit, silika, smektit, serpentin, talk dan garnierit; sedangkan batuan ultramafik pada blok Petea yang disusun oleh serpentin, piroksin, klorit, dan magnetit mengalami perubahan menjadi serpentin residual, amfibol, maghemit, dan klorit membentuk zona saprolit. Pelapukan lebih lanjut secara intensif mengakibatkan mineral-mineral sekunder pada zona saprolit berubah menjadi oksida besi terutama goetit membentuk zona limonit di bagian atas profil. Analisis geokimia pada profil laterit di kedua blok menunjukkan suatu pola laterit nikel yang khas, dimana MgO, SiO2 dan CaO berkurang secara tajam ke arah atas profil; sedangkan FeO, Al2O3, TiO2 dan Cr mengalami peningkatan. Perhitungan indeks pelapukan dan kesetimbangan massa menunjukkan bahwa Mg dan Si mengalami pengurangan pada profil laterit selama proses pelapukan namun Si terlindih lebih cepat pada zona saprolit blok barat dibanding blok Petea. Pengkayaan Mn dan Co pada zona batas saprolit-limonit akibat perpindahan secara vertikal dari zona atas dan terpresipitasi pada profil pelapukan. Secara umum, karakteristik geokimia dan mineralogi menunjukkan bahwa genesa bijih terutama dikendalikan oleh sifat-sifat batuan dasar dan iklim lokal. Karakteristik profil laterit pada dua blok menunjukkan perbedaan sejarah pelapukan dimana laju pelapukan kimia dan tingkat amblesan pada profil blok barat lebih ekstrim dibandingkan dengan profil laterit pada blok Petea. Proses pengkayaan Ni pada blok barat terjadi melalui pembentukan filosilikat sekunder yang disebut “garnierit”, sedangkan “reaksi pertukaran ion” merupakan mekanisme pengakyaan NI yang terjadi pada blok Petea dimana Ni menggantikan Mg pada struktur kristal serpentin residu. Nikel terkayakan pada zona saprolit dengan kadar hingga mencapai 4,2 % pada blok barat, lebih tinggi dari blok Petea dengan konsentrasi Ni mencapai 2.4 %. Nikel pada zona saprolit blok barat menunjukkan pengkayaan absolut hingga 467 %, yang juga lebih tinggi dibanding dengan pengkayaan pada zona saprolit blok Petea yaitu 459 %. Mineral-mineral pembawa Ni pada bijih laterit blok barat terutama terdiri dari “garnierit, goethit dan sedikit talk; sementara serpentin residual merupakan mineral utama pembawa Ni pada bijih blok Petea. Garnirierit pada blok barat diidentifikasi sebagai campuran fasa antara seri mineral-mineral kerolit-pimelit, lizardit-nepouit, talk-wilemsit dan Ni-smektit; sedangkan sepiolit-falcondoit dengan sedikit kerolit-pimelit dan Ni-serpentin diidentifikasi sebagai seri mineral penyusun garnierit pada blok Petea. Dengan demikian, endapan laterit Soroako digolongkan sebagai tipe bijih silikat. Percobaan pelindian dengan menggunakan asam sulfat pada tekanan atmosfir terhadap dua contoh bijih saprolit dari masing-masing blok memperlihatkan perilaku disolusi mineral yang berbeda. Olivin pada bijih saprolit blok barat terdisolusi secara sempurna diikuti oleh serpentin dan goetit; sedangkan talk sangat sulit terdisolusi, namun kuarsa tidak larut sama sekali. Sementara itu, serpentin residual pada bijih saprolit blok Petea mudah mengalami disolusi diikuti oleh klorit dan maghemit. Akan tetapi enstatit, amphibol dan kuarsa tidak mengalami pelarutan. Laju pelindian Ni pada bijih saprolit blok barat lebih rendah dibandingkan dengan bijih saprolit pada blok Petea. Perbedaan tingkat disolusi mineral dan laju pelindian Ni dari kedua bijih ini mungkin disebabkan oleh variasi struktur kristal dan tingkat substitusi logam baik pada mineral silikat ataupun mineral oksida. Dalam kaitannya dengan proses hydrometalurgi, diprediksikan bahwa koekstraksi Ni dengan Mg dan Fe tidak dikehendaki karena akan mengkonsumsi asam berlebih. Kehadiran mineral talk pada garnierit blok barat dapat menyebabkan penurunan laju pelindian Ni akibat sifat refraktori dari mineral ini. Di lain pihak, tingginya tingkat disolusi serpentin residual saprolit blok Petea tidak hanya menyebabkan tingginya Ni terlarut akan tetapi juga dapat menghasilkan magnesium terlarut dan silika amorf sebagai padatan sisa. Kehadiran silika amorf dapat menghambat proses pemisahan logam lebih lanjut dari larutan terlindih. Namun demikian, silika amorf dapat memiliki potensi sebagai bahan baku untuk pabrikasi silikon karbida. Secara umum, ekstraksi Ni dari kedua bijih saprolit masih rendah, akan tetapi bijih saprolit dari blok Petea dapat memberikan potensi ekstraksi Ni yang lebih baik pada proses dengan tekanan normal. Secara alternatif, bijih saprolit Petea dapat digunakan sebagai umpan pada proses pelindian tahap kedua untuk netralisasi larutan terlindih dari proses ekstraksi Ni dengan proses pelindian asam bertekanan tinggi en_US
dc.subject MINERALOGY,GEOCHEMISTRY en_US
dc.title MINERALOGI, GEOKIMIA DAN SIFAT “LEACHING” PADA ENDAPAN LATERIT NIKEL SOROAKO, SULAWESI SELATAN, INDONESIA en_US
dc.UNHAS.email user.repo@unhas.ac.id en_US
dc.UNHAS.Fakultas TEKNIK en_US
dc.UNHAS.Prodi GEOLOGI en_US
dc.UNHAS.idno 196608172000121001 en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repository


Browse

My Account