Abstract:
Dalam dinamika kebangsaan Indonesia, posisi organisasi masyarakat memiliki karakter tersendiri dalam system politik Indonesia. Meskipun tidak sebagai pengambil kebijakan dalam hal kenegaraan, namun memberikan pengaruh terhadap proses pembuatan kebijakan dan penempatan actor yang mengisi jabatan kenegaraan, dalam hal ini antara eksekutif, legislative, atau yudikatif.
Menurut teori tentang organiasi masyarakat, ada tiga bahan refleksi dari hadirnya ormas, yaitu merefleksi tiga pilar relasi masyarakat dan Negara. Pertama, warga Negara membutuhkan rasa aman, maka dibentuklah Militer untuk memnuhi kebutuhan pilar pertama. Kedua, warga Negara membutuhkan pelayanan, maka dibentuklah birokrasi untuk melayani masyarakat. Ketiga, warga Negara membutuhkan perundang-undangan (aturan), maka dibentuklah legislative yang diisi oleh politisi. Ketika salah satu saja pilar ini rapuh dan tidak bekerja optimal disitulah celah hadirnya ormas untuk menuntut dan menjadi alternative mengisi kekosongan tuntutan pilar di atas.
Hadirnya Nasional Demokrat, mengambil celah dari kerapuhan ketiga pilar di atas yang tidak berfungsi secara maksimal. Terutama pilar terakhir, politisi bangsa hari ini tidak memainkan fungsinya. Ketika sebagian masyarakat sosial mengalami ketidakadilan atas fakta yang diamatinya, kecewa dengan keadaan perpolitikan, mengalami kesulitan mengakses ekonomi, maka ia akan cenderung melakukan aksi atas rasa yang ia alami, ada beberapa alternative untuk mengungkapakan kekecewaan, ketidakadilan, dan kesulitannya, yaitu mencari atau membentuk wadah melakukan protes yang mengarah pada perubahan sosial. Inilah yang dikatakan teori deprivasi, yaitu kedaan psikolois dimana seseorang (kelompok) merasakan ketidak puasan atas kesenjangan/kekurangan subjektif atas kondisi sosial . Hadirnya Nasional Demokrat mencoba menawarkan alternatif atas keresahan sosial tersebut.
Nasional Demokrat sebagai ormas, pada awal terbentuknya memberikan harapan dari berbagai golongan, yakni dari politisi hingga para akademisi. Harapan tersebut membuat mereka terpenggil untuk ikut terlibat secara aktif dalam membangun cita-cita Nasional Demokrat, restorasi indonesia.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, terjadi tarik-menarik oreintasi dari para anggota Nassional Demokrat sendiri. Ada sebagaian golongan yang merasa perlu terlibat langsung kedalam politik, dan ada sebagaian anggota yang merasa keterlibatan Nasional Demokrat cukup hanya pada lingkup social.
Telaah analisis kehadiran Ormas ini menarik untuk dicermati dalam rangka untuk melihat sejauhmana konstelasi dan kepentingan politik terkait kecenderungan arah peta politik nasional kedepan, serta sejauhmana latar belakang berdirinya ormas ini dalam upaya mempengaruhi persepsi masyarakat terkait dengan situasi dan kondisi aktual yang sedang berkembang ditengah hegemoni kekuasaan koalisi partai politik yang tengah berkuasa.
Dari pemaparan diatas, membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gerakan Nasional Demokrat dalam perpektif politik. Untuk menjawab orientasi Nasional Demokrat ke depannya.